June 3rd 2009 02:42 pm
dodi dan dodo
dipinggir hutan yang terpencil dinegara donesia hidup dua orang kakak beradik, yang kakak benama dodi dan yang adik bernama dodo.
dodi adalah seorang petani dan dia memiliki ladang jagung serta sayuran yang baik. sedangkan dodo adalah seorang peternak, dia memelihara kambing dan ayam.
dodi dan dono memiliki seorang ayah yang tinggal di kota dan setiap bulan mereka mengirimkan hasil jerih payah mereka kepada sang ayah untuk dijual dipasar dan sang ayah akan mengirim kepada mereka barang-barang keperluan yan dibeli dari hasil jualan dipasar.
suatu saat, datanglah musim kemarau yang panjang melanda negera donesia, musim kemarau ini menjadikan ladang sulit ditanami dan hewan kekurangan gizi, akibatnya kemiskinan dan kelaparan mulai melanda pelosok negera tersebut.
hal yang sama juga dialami oleh dodi dan dodo, hasil panen dodi menurun drastis dan hasil hewan dodo juga demikian dan yang parahnya lagi saat untuk mengirimkan hasil-hasil tesebut kepada sang ayah sudah tiba.
akhirnya dengan terpaksa dodi menyisihkan sebagian dari hasil panennya dan mengirimkannya ke kota, pikirnya berapakah yang mampu dijual sang ayah dalam kondisi begini disaat semua orang susah da kekurangan makanan, lebih baik aku menyisihkan sebagian hasil ini untuk persediaan dikala keadaan semakin sulit.
hal yang sama juga dilakukan oleh dodi, dia juga menyiapkan hasil ternaknya untuk dikirim ke sang ayah, namun dia tidak mengirimkan sebagian dia mengirim semua hasil ternaknya termasuk anak kambing yang baru lahir, pikirnya tentu sang ayah akan menjual anak kambing ini dengan harga yang mahal sekali.
seminggu berlalu dan seperti biasa kiriman dari sang ayah tiba, namun kali ini jauh lebih banyak dibanding biasanya serta disertai dengan sebuah surat, isinya ialah: Semua kiriman ini untuk dodo.
dodi marah besar, dia kecewa pada sang ayah, mengapa ayah membedakan anak-anaknya dan bukankah dia sudah mengirimkan barang untuk dijual dipasar
dengan penuh amarah dodi berangkat ke kota untuk menemui sang ayah, dia ingin bertanya, apa yang salah dengan dia sehingga sang ayah sepertinya lebih menyayangi si adik, dodo.
setibanya dikota ditemuilah sang ayah dan disampaikannyalah keluhannya itu, dengan tenang sang ayah berkata, dodi tidakkah kau percaya pada aku, tidakkah kau yakin akan kemampuan ku untuk menjual semua hasil usaha mu? bukankah engkau adalah anak ku dan sudah sekian lama engkau melihat bahwa aku selalu mampu melakukan tugas ku?
akhirnya menangislah dodi dan dia sadar akan kesalahannya.
beraa banyak dari kita yang seperti dodi? kurang percaya sama tuhan, bapa kita? kita suka berdalih bahwa kita harus cerdik menyikapi beragam hal dan fenomena hidup yang ada didepan kita, dan kita lupa bahwa terhadap detak jantung kitapun kita tidak memiliki kuasa.
sering kali kita hanya memberikan yang ala kadarnya kepada tuhan, kita melayani dia namun disisi lain kita juga tidak mau memberikan waktu kita semuaya kepada dia.
seringkali dalam persiapan hamba-hamba allah saya dapati banyak dari mereka yang mengeluh karena persiapannya terasa lama, mereka masih punya banyak kegiatan lain, mereka perlu istirahat karena lelah setelah bekerja, dan beragam dalil lain yang kerap terucap.
mereka semua lupa bahwa lebih baik 1 hari dipelataran tuhan daripada 1000 hari ditempat lain.
kita boleh saja khawatir akan hari esok dan segala kesusahannya, kita boleh saja bimbang dengan masa depan kita, namun ingat semuanya ada ditangan tuhan, bukan kita.
No Comments yet »
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.


